Maandag, 08 April 2013

Perbandingan hasil pemeriksaan glukosa darah metode GOD-PAP menggunakan serum tanpa sentrifugasi dengan serum yang disentrifugasi

                                                             BAB I
                                                     PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
       Dalam ilmu kedokteran, gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Umumnya tingkat gula darah bertahan pada batas-batas yang sempit sepanjang hari: 4-8 mmol/l (70-150 mg/dl). Tingkat ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada level terendah pada pagi hari, sebelum orang makan. (Anik Widjayanti, 2009)
       Salah satu pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan adalah pemeriksaan glukosa darah. Tujuan dari pemeriksaan glukosa darah ini salah satunya adalah untuk menentukan ada tidaknya penyakit diabetes mellitus. Diabetes mellitus adalah penyakit yang paling menonjol yang disebabkan oleh gagalnya pengaturan gula darah atau kelainan metabolisme karbohidrat, dimana glukosa darah tidak dapat digunakan dengan baik, sehingga meyebabkan keadaan hiperglikemia. (Anonim. 2010)
       Umumnya pada pemeriksaan kimia darah khususnya glukosa biasanya digunakan serum sebagai spesimen. Serum merupakan hasil pemisahan antara komponen cair dan seluler dari darah (whole blood). Proses pemisahan komponen darah untuk mendapatkan serum dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama dengan mendiamkan darah selama minimal 1-2 jam hingga terjadi pemisahan dengan sendirinya (pemisahan spontan), namun dengan membiarkan darah terlalu lama memungkinkan terjadinya metabolisme glukosa dalam sampel oleh sel-sel darah. Kadar glukosa dalam tabung akan menurun setelah 10 menit pengambilan darah, karena proses glikolisis dengan kecepatan kurang lebih 7 mg/dl per jam. (Anonim 2012).
       Kenyataan dilapangan Pemeriksaan Glukosa darah Pada spektrofotometer Sering Mengalami penundaan pemeriksaan Hal ini biasanya disebabkan karena pemeriksaan dilakukan secara seri, penundaan pengiriman sampel, penanganan sampel yang kurang cepat dan  tepat, terjadi kerusakan alat maupun kehabisan reagen pemeriksaan. Sebagai contoh penundaan pengiriman darah akan mengakibatkan penurunan kadar glukosa darah, peningkatan kadar kalium, hal ini dapat mengakibatkan kesalahan pengobatan pasien.    ( Anonim. 2012)
        Cara kedua yaitu dengan mendiamkan darah hingga membeku kemudian dilanjutkan dengan sentrifugasi hingga terjadi pemisahan secara total kemudian serum dipisahkan dari sel-sel darah untuk mencegah terjadinya proses metabolisme sel hidup yang dapat mengakibatkan penurunan kadar glukosa darah. Hal ini sejalan dengan pendapat Hardjoeno dalam bukunya Interprestasi Hasil tes Laboratorium Diagnostik  bahwa ”Serum harus segera dipisahkan dari bahan bekuan darah dalam sampel atau paling lambat 2 jam setelah pengambilan darah untuk menghindari perubahan-perubahan dari zat-zat yang terlarut didalamnya oleh pengaruh hemolisis darah” (Hardjoeno, 2003)
       Dengan perkembangan yang pesat dari jumlah dan jenis pemeriksaan, peralatan laboratorium, maka dibutuhkan pemilihan metode dan alat yang sesuai dengan indikasi pemeriksaan serta interpretasi hasil yang tepat  (www.klik nikmedik.com.2012)
       Pada pemeriksaan glukosa darah metode yang digunakan meliputi metode reduksi, enzimatik, dan lainya. Namun yang sering digunakan adalah metode enzimatik, yaitu metode glukosa oksidase peroksidase, 4-aminophenason dan phenol (GOD-PAP) karena mempunyai akurasi dan presisi yang baik (Sri Jufari, 2011).
       Berdasarkan uraian diatas, maka penulis berkeinginan melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui Perbedaan Hasil Pemeriksaan Glukosa Darah Metode GOD-PAP Menggunakan Serum Tanpa Sentrifugasi Dengan Serum yang Disentrifugasi.
B.     Rumusan Masalah
       Berdasarkan uraian diatas maka dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut: ”Apakah Terdapat Perbedaan Hasil Pemeriksaan Glukosa Darah Metode GOD-PAP Menggunakan Serum Tanpa Sentrifugasi Dengan Serum yang Disentrifugasi Pada Mahasiswa Program Studi D3 Analis Kesehatan Universitas Indonesia Timur ?”

C.    Tujuan Penelitian
1.  Tujuan Umum
              Untuk mengetahui pemeriksaan glukosa darah Metode GOD-PAP yang menggunakan serum tanpa disentrifugasi dengan serum yang disentrifugasi pada mahasiswa Program Studi D3 Analis Kesehatan Universitas Indonesia Timur.
2.  Tujuan Khusus
               Untuk menentukan perbedaan hasil pemeriksaan glukosa darah metode GOD-PAP menggunakan serum tanpa sentrifugasi dengan serum yang disentrifugasi pada mahasiswa Progam Studi D3 Analis Kesehatan Universitas Indonesia Timur.
D.   Manfaat Penelitian
1.  Manfaat bagi Institusi
        Sebagai sumbangsih ilmiah bagi almamater Program Studi D3 Analis Kesehatan Universitas Indonesia Timur Makassar.
2.    Manfaat bagi praktisi Kesehatan
        Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan tentang pemeriksaan glukosa darah sehingga dapat membantu dalam penegakan diagnosa suatu penyakit.
3.    Akademik
         Sebagai referensi untuk menambah pengetahuan tentang cara penanganan dan pemeriksaan glukosa.

4.  Peneliti
          Menambah pengetahuan penulis dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dibangku perkuliahan pada bidang laboratorium.
E.   Hipotesis
1.    Hipotesis nol (Ho)
         Tidak ada perbedaan yang bermakna antara hasil pemeriksaan glukosa darah metode GOD-PAP menggunakan serum tanpa sentrifugasi dengan serum yang disentrifugasi pada mahasiswa Program Studi D3 Analis Kesehatan Universitas Indonesia Timur.
2.  Hipotesis alternatif (Ha)
          Ada perbedaan yang bermakna antara hasil pemeriksaan glukosa darah metode GOD-PAP menggunakan serum tanpa sentrifugasi dengan serum yang disentrifugasi pada mahasiswa Program Studi D3 Analis Kesehatan Univesitas Indonesia Timur.
 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Tinjauan Umum Tentang Darah    
              Darah adalah suatu jaringan tubuh yang terdapat didalam pembuluh darah yang warnanya merah. Warna merah itu tidak tetap tergantung pada banyaknya oksigen dan karbondioksida  didalamnya. Adanya oksigen dalam darah diambil dengan jalan bernafas dan zat ini sangat berguna pada pristiwa pembakaran atau metabolisme dalam tubuh.
               Darah terdiri dari dua komponen besar  komponen cair ( plasma)  dan komponen seluler  sel-sel darah atau korpuskuli (eritrosit, leukosit dan trombosit ). Komponen plasma 45% - 65% volume darah total yang terdiri dari  air 91% - 92% dan sel padat  8% - 9% diantaranya    ( protein, unsur - unsur  an-organik, organic  dan enzim-enzim).darah pada umumnya berfungsi sebagai wahana pengangkut (transport) bebagai komponen menuju  berbagai organ tubuh, system imunologik dan fungsi hemostasis.( Muhamad Sadikin, 2001)
B.    Tinjauan Umum Tentang Serum
              Di dalam darah, serum (bahasa Inggris: blood serum) adalah komponen yang bukan berupa sel darah, juga bukan faktor koagulasi; serum adalah plasma darah tanpa fibrinogen, (bahasa Latin: serum)  berarti bagian tetap cair dari susu yang membeku pada proses pembuatan keju. Serum terdiri dari semua protein (yang tidak digunakan untuk pembekuan darah) termasuk cairan elektrolit, antibodi, antigen, hormon, dan semua substansi exogenous.
       Bahan-bahan yang biasa diukur dalam serum umumnya digolongkan ke dalam kategori-kategori berikut:
1.      Bahan yang dalam keadaan normal memiliki fungsi dalam sirkulasi
2.      Bahan hasil metabolit
3.      Bahan yang dikeluarkan dari sel akibat kerusakan dan kelainan premeabilitas atau kelainan properasi sel.
4.      Obat dan zat toksik.
       Serum diperoleh setelah sampel darah dibekukan dan bekuannya dipisahkan dengan pemusingan. Pemakaian serum sebagai pengganti plasma juga mencegah pencemaran spesimen oleh antikoagulan yang mungkin mempengaruhi satu atau lebih tes (Anonim. 2010).
a.      Serum yang disentrifugasi
             Teknik pemisahan serum dengan sentrifugasi  adalah setelah pengambilan darah vena, bagian darah tersebut dibiarkan membeku (± 15 menit) kemudian dipusingkan pada sentrifuge dengan kecepatan 2000-3000 rotasi permenit selama 15 menit, sesegera mungkin dipisahkan  serumnya kemudian diperiksa kadar glukosa darahnya secara fotometrik (Riskawati, 2011)
b.      Serum tanpa sentrifugasi
       Teknik pemisahan serum tanpa sentrifugasi adalah setelah dilakukan pengambilan darah vena, darah dimasukan dalam tabung tanpa antikoagulan, kemudian darah dibiarkan membeku kurang lebih satu sampai dua jam hingga terbentuk serum. sesegera mungkin dipisahkan  serumnya kemudian diperiksa kadar glukosa darahnya secara fotometrik.
C.           Tinjauan Umum Tentang Reagen Glukosa
1.         Ukuran kemasan;
REF3       10 260                        4 x 100 ml      Reagen enzim
               10 121                        1000 ml          Reagen enzim
               10 123                        9 x 3 ml          Standar
2.         Reagen glukosa dengan komposisi:
      Buffer fosfat (pH 7.5)                          0.1mol/l
      4-aminophenazone                            25mmol/l
      Phenol                                                   0.75mmol/l
      Glucose oxidase                                  >15 KU/l
      Peroksidase                                          >1.5 KU/l
      Mutarotase                                            >2.0KU/l
3.      Standar Glukosa
Glukosa                                                100mg/dl atau 5.55 mmol /l
4.      Persiapan reagen
RGT dan STD siap dipakai
5.      Stabilitas reagen
       Reagen stabil sampai tanggal kedaluwarsa bila disimpan pada suhu 2oC sampai 8 oC. Ketika dibuka hindari kontaminasi. RGT stabil  selama 2 mnggu pada suhu 15oC sampai 25oC
D.    Tinjauan Umum Tentang Karbohidrat
       Karbohidrat merupakan bahan yang sangat diperlukan tubuh manusia, hewan dan tumbuhan  disamping lemak dan protein, senyawa ini dalam jaringan  merupakan cadangan makanan atau energi yang disimpan dalam sel. Bentuk molekul karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana. Banyak karbohidrat yang merupakan polimer yang tersusun dari satu molekul gula yang terangkai menjadi rantai panjang serta bercabang-cabang. Karbohidrat merupakan bahan makanan penting dan sumber tenaga yang terdapat dalam tumbuhan dan daging hewan. Selain itu, karbohidrat juga menjadi komponen struktur penting pada makhluk hidup dalam bentuk serat (fiber), selulosa, pektin, serta lignin. Karbohidrat menyediakan kebutuhan dasar yang diperlukan tubuh. Tubuh menggunakan karbohidrat seperti layaknya mesin mobil menggunakan bensin. Selain sebagai sumber energi, karbohidrat juga berfungsi untuk menjaga keseimbangan asam basa di dalam tubuh, berperan penting dalam proses metabolisme dalam tubuh, dan pembentuk struktur sel dengan mengikat protein dan lemak. Karbohidrat merupakan komponen pangan yang menjadi sumber energi utama dan sumber serat makanan. Komponen ini disusun oleh 3 unsur utama, yaitu karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O).
Reaksi fotosintesis
   Sinar matahari
6CO2 + 6H2O                                               C6H12O6 + O2
Klorofil
1.     Klasifikasi Karbohidrat
       Dari rumus umum karbohidrat, dapat diketahui bahwa senyawa ini adalah suatu polimer yang tersusun atas monomer yang menyusunnya, karbohidrat dibedakan menjadi empat golongan yaitu : monosakarida,disakarida, oligosakarida dan polisakarida
a.      Monosakarida 
              Merupakan karbohidrat paling sederhana karena molekulnya hanya terdiri atas beberapa atom C dan tidak dapat diuraikan dengan cara hidrolisis menjadi karbohidrat lain. Monosakarida dibedakan menjadi aldosa dan ketosa. Contoh dari aldosa yaitu glukosa dan galaktosa. Contoh ketosa yaitu fruktosa terdiri atas 3-6 atom C dan zat ini tidak dapat lagi dihidrolisis oleh larutan asam dalam air menjadi karbohidrat yang lebih sederhana tidak dapat dihidrolisis ke bentuk yang lebih sederhana. Monosakarida yang terpenting adalah glukosa, galaktosa, dan fruktosa.
b.      Disakarida 
Merupakan karbohidrat yang terbentuk dari dua molekul monosakarida yang berikatan melalui gugus –OH dengan melepaskan molekul air. Contoh dari disakarida adalah sukrosalaktosa, dan maltosa.
1)  Sukrosa
       Adalah gula yang kita gunakan sehari-hari, baik  yang berasal dari tebu, maupun tumbuhan lainya. Pada molekul sukrosa terdapat ikatan antara molekul glukosa dan fruktosa. Hasil hidrolisis sukrosa yaitu campuran Glukosa dan fruktosa yang biasa disebut dengan gula invert.
2)  Maltosa adalah suatu disakarida yang terbentuk dari dua molekul glukosa. Ikatan yang terjadi ialah antara atom karbon nomor I dan atom karbon nomor 4, oleh karenanya maltosa masih mempunyai gugus -OH glikosidik dan dengan demikian masih mempunyai sifat mereduksi. Maltosa merupakan hasil antara dalam proses, hidrolisis amilum dengan asam maupun dengan enzim.
3)  Laktosa
       Adalah suatu disakarida yang terbentuk dari dua molekul glukosa. Dalam tubuh kita amilum Mengalami hidrolisis menjadi glukosa yang digunakan oleh tubuh.
c.      Oligosakarida 
       Senyawa yang terdiri dari gabungan molekul-molekul monosakarida yang banyak gabungan dari 3 sampai 6 monosakarida dihidrolisis: gabungan dari 3 sampai 6 monosakarida misalnya maltosa, sukrosa dan laktosa.
d.      Polisakarida
       Senyawa yang terdiri dari gabungan molekul-molekul monosakarida yang banyak jumlahnya, senyawa ini bisa dihidrolisis menjadi banyak molekul monosakarida. Polisakarida merupakan jenis karbohidrat yang terdiri dari lebih 6 monosakarida dengan rantai lurus / cabang. (Riskawati, 2011)
2.  Metabolisme Glukosa
       Pada dasarnya metabolisme glukosa dapat dibagi dalam dua bagian yaitu yang menggunakan oksigen atau aerob dan yang tidak menggunakan oksigen yaitu reaksi anaerob yang terdiri atas serangkaian reaksi yang mengubah glukosa menjadi asam laktat, proses ini disebut glikolisis.
a.      Glikolisis
        Glikolisis terjadi didalam sel. Proses glikolisis dimulai dengan molekul glukosa dan diakhiri dengan terbentuknya asam laktat Pada tahap glikolisis, terjadi dua langka reaksi, yaitu langka memerlukan energi dan langkah Melepaskan energy. Saat langkah memerlukan energi, 2 molekul ATP diperlukan untuk mentransfer gugus fosfat ke glukosa sehingga glukosa memiliki simpan energi yang lebih tinggi. Energi ini diperlukan unuk reaksi selanjutnya, yaitu reaksi pelepasan energi.
       Jadi dapat disimpulkan bahwa glikolisis adalah reaksi pelepasan energi yang memecah satu molekul glukosa  (terdiri dari 6 atom karbon ) atau monosakarida yang lain menjadi dua    molekul asam  piruvat ( terdiri dari 3 atom karbon), 2 NADH (nicotinamide Adenin Dinucleotide H), dan 2 ATP.

b.       Glikogenesis
              Glukosa merupakan sumber bahan bagi proses glikolisis, karena glukosa terdapat dalam jumlah banyak bila dibandingkan dengan monosakarida yang lain, oleh karena itu bila jumlah glukosa yang diperoleh dari makanan terlalu berlebih, maka glukosa akan disimpan dengan jalan diubah menjadi glikogen dalam hati dan jaringan otot. Proses sintesis glikogen dari glukosa ini disebut glikogenesis.
     Glikogen hati
      
               Asam laktat                                                      Glukosa darah

                                       Glikogen otot
Gambar 2.1 siklus cori
c.      Glikogenolisis
       Proses reaksi pemecahan molekul  glikogen menjadi molekul–molekul glokusa disebut glikogenolisis, proses ini kebalikan dari reaksi glikogenesis. Glikogen dalam hati atau otot dapat dipecah menjadi molekul fosfat melalui proses fosfolisis, reaksi dengan asam amino
d.      Glikoneogenesis
        Glikoneogenesis merupakan istilah yang digunakan untuk mencakup semua mekanisme dan lintasan yang bertanggung jawab untuk mengubah senyawa non karbohidrat menjadi glukosa atau glikogen. Substrat utama bagi glukoneogenesis adalah asam amino glikogenik, laktat, gliserol, dan propionat. Hati dan ginjal merupakan jaringan utama yang terlibat, karena kedua organ tersebut mengandung komplemen lengkap enzim-enzim yang diperlukan (Anonim,  2011)
E.     Tinjauan UmumTentang Diabetes Mellitus
       Diabetes adalah suatu penyakit  yang mengganggu kemampuan tubuh untuk mengunakan sari-sari makanan secara efisien. Hormon insulin yang diproduksi di pankreas membantu tubuh dalam mengubah makanan menjadi energi. Diabetes terjadi bila satu dari kondisi ini terjadi, pankreas gagal memproduksi insulin, atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang telah diproduksinya. Pada kasus kronis, ada kaitannya dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi, atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, syaraf, jantung, dan pembuluh darah.
1.      Macam-Macam Diabetes
a.     Diabetes Tipe 1
              Diabetes tipe 1 disebabkan oleh kerusakan sel-sel beta dalam pankreas yang bertugas mengsekresi insulin. Dipercaya bahwa paling tidak pada awal mulanya penyakit kekebalan tubuh disebabkan oleh racun atau virus. “kejadian” ini mendorong sistem kekebalan tubuh untuk menyerang pankreas. Sel-sel beta dalam pankreas mengalami kerusakan karena serangan tersebut dan tidak dapat lagi memproduksi insulin.
             Gejala awal diabetes tipe 1 meliputi rasa lapar dan haus berlebihan, penurunan berat badan tanpa sebab, seiring pembuangan air kecil penglihatan kabur, kelelahan, dan infeksi kronis. Pada situasi krisis, serangan diabetes tipe satu dapat mengakibatkan kejang, kebingungan, napas berbau buah, dan ketidaksadaran dan biasanya terjadi pada usia yang sangat muda.
              Diabtes tipe 1 hanya dapat dikendalikan  dengan suntikan insulin dan pengawasan makanan sehari-hari. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, tetapi pengelolahan yang cermat memungkinkan penderita diabetes tipe 1 dapat menjalani hidup secara normal
b.     Diabetes Tipe 2
             Suatu penyakit metabolisme tubuh. Penderita diabetes tipe 2 dapat menghasilkan insulin tetapi insulin yang dihasilkan tidak cukup atau tidak bekerja sebagaimana mestinya didalam tubuh. Diabetes tipe 2 sering dijumpai pada pria maupun wanita berusia lebih dari 40 tahun yang memiliki kelebihan berat badan.
             Diabetes tipe 2 dapat menjadi gerbang bagi berbagai penyakit yang dapat mengacam kehidupan. Yang terbesar diantaranya adalah meningkatnya resiko terhadap kemungkinan berkembangnya penyakit jantung koroner (coronary artery disease) atau sering disebut  CAD. CAD adalah penyebab kematian terbesar bagi penderita DM. Bila kadar gula tinggi ( hiperglikimia ) dan tak terkendali karena diabetes, hal ini dapat menyebabkan kerusakan sistemik dalam tubuh. Lama kelamaan dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke pada usia dini, kebutaan, amputasi kaki, dan kerusakan ginjal.
c.      Diabetes Pada Kehamilan
              Diabetes yang muncul hanya pada saat hamil disebut sebagai diabetes tipe gestasi atau gestational diabetes. Keadaan ini terjadi karena pembentukan beberapa hormon pada ibu hamil yang mengakibatkan resistensi insulin. Diabetes semacam ini terjadi pada 2-5% kehamilan. Biasanya baru diketahui setelah kehamilan bulan keempat  ke atas, kebanyakan pada trimester ketiga ( tiga bulan terakir kehamilan). Setelah persalinan, pada umumnya glukosa darah akan kembali normal. ( D” Adamo peter J dkk. 2006 )
d.     Diabetes Yang Lain
             Adapula diabetes yang tidak termasuk dalam kelompok diatas yaitu diabetes sekunder atau akibat dari penyakit lain yang mengganggu reproduksi insulin atau mempengaruhi kerja insulin. Penyebab diabetes semacam ini adalah : radang pankreas ( pankreastitis ), gangguan kelenjar adrenal atau hipofisis. Gangguan hormon kortikosteroid, pemakaian beberapa obat anti hiprtensi atau anti kolestrol, malnutrisi dan infeksi (Tandra H. 2007)  
F.     Metode Pemeriksaan Glukosa Darah
       Metode pemeriksaan gula darah meliputi metode reduksi dan enzimatik. Yang paling sering digunakan adalah metode enzimatik, yaitu metode glukosa oksidasi (GOD) dan metode heksokinase. Metode GOD dan heksokinase banyak digunakan karena mempunyai akurasi dan presisi yang baik dan merupakan metode referensi, karena enzim yang digunakan spesifik untuk glukosa. (www.tempo.co.id.2011)
1.      Metode Glukosa Oksidasi
             Metode glukosa oksidase merupakan metode yang paling banyak digunakan di laboratorium yang ada di Indonesia. Sekitar 85% dari peserta program nasional pemantapan mutu eksternal di bidang kimia klinik. Memeriksa glukosa serum kontrol dengan menggunakan metode ini.
       Prinsip pemeriksaan:
              Glukosa ditentukan setelah oksidasi enzimatis dengan adanya oksidase. Hidrogen peroksida yang terbentuk bereaksi dengan adanya peroksidase. Dengan phenol serta 4-amiophenazon menjadi  zat  warna quinoneimine berwarna merah violet.
                                               GOD
             Glukosa +O2 +H2O                              gluconic acid +H2O2
                                                    

                                                                             POD
2H2O2 +4-aminphenazon+ phenol                      quinoneimine +4 H2O
             Digunakan enzim glukosa oksidasi pada reaksi pertama menyebabkan sifat Reaksi pertama spesifik untuk glukosa khususnya P-D-glukosa. Sedangkan  reaksi kedua tidak spesifik karena zat yang bisa teroksidasi dapat  menyebabkan  hasil pemeriksaan lebih rendah. Asam urat, asam askorbat, bilirubin, dan glutation menghambat reaksi karena zat-zat ini akan berkompotesi dengan kromogen bereaksi dengan hydrogen peroksida sehingga hasil pemeriksaan akan lebih rendah. Keunggulan dari metode GOD adalah karena murahnya reagen dan hasil yang cukup  memadai. Namun hasil pemeriksaan juga dapat dipengruhi oleh serum yang lisis mutu reagen, alat yang tidak  dan cara kerja analisis itu sendiri.
2.      Metode Hexokinase
              Metode hexokinase merupakan metode untuk pemeriksaan glukosa darah dianjurkan (reference method) oleh WHO dan IFCC. Namun baru sekitar 10%  laboratorium yang menggunakan metode ini untuk pemeriksaan glukosa  darah.
       Prinsip pemeriksaan:
              Hexokinase akan mengkatalisis reaksi fosforilasi glukosa dengan ATP membentuk glukosa 6-fosfat dan ADP.Enzim kedua yaitu glukosa 6-fosfat dehidrogennase akan mengkatalisis oksidasi glukosa-6-fosfat dan ADP dengan nicotinamid adeninedenucleotide phosphate (NADP)
                             Hexokinase
Glukosa  + ATP                  Glukosa-6-fosfat +ADP
                                                   G-6-DP
Glukosa-6-fosfat +NADP (p) +               6- fosfoglukonat + NAD (p)     H + H+
Pada metode ini digunakan dua macam enzim yang spesifik sehingga hasil yang diperoleh sangat baik. Belum ada laporan penelitian yang mengatakan adanya reaksi senyawa lain. Kekurangan dari metode ini adalah biaya yang relativ mahal untuk pemeriksaan tersebut (Anonim, 2005)
3.      Pemeriksaan Reduksi Metode Benedict
              Penyakit diabetes selain dapat dideteksi melalui pemeriksaan glukosa darah dapat juga dideteksi pada urin sehinga dapat dilakukan pemeriksaan glukosa pada sampel urin yaitu pemeriksaan reduksi metode benedict. Darah disaring oleh jutaan nefron sebuah unit fungsional dalam ginjal. Hasil penyaringan (filtrat) berisi produk-produk limbah (misalnya urea), elektrolit( misalnya natrium, kalium dan klorida), asam amino dan glukosa. Filtrate kemudian dialirkan
ke tubulus gijal untuk direabsorbsi dan diekskresikan zat-zat yang diperlukan  termasuk glukosa diserap kembali dan zat-zat yang tidak diperlukan diekskresikan kedalam urin.
              Kurang dari 0,1% glukosa yang disaring oleh glomerolus terdapat dalam urin yaitu kurang dari 130 mg/24 jam. Kelebihan gula dalam urin atau disebut juga glukosuria karena nilai ambang ginjal terlampau ( kadar gula darah melebihi 160-180 mg/dl) atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun.
              Uji glukosa urin menggunakan reagen benedict atas dasar sifat glukosa sebagai peruduksi. Cara ini tidak spesifik karena beberapa pereduksi lain dapat mengacaukan hasil uji. Beberapa gula lain bisa menyebabkan hasil uji reduksi positif misalnya glukosa, sukrosa, galaktosa, pentosa, laktosa dan beberapa zat bukan gula yang dapat mengadakan reduksi seperti homogentisat alkapton, formalin, glukoronat. Metode benedict banyak digunakan di laboratorium klinik karena hanya menggunakan satu jenis larutan saja untuk menafsirkan kadar gula secara kasar dan pemakaian bahan urin yang sedikit  sekali, dengan prinsip glukosa dalam urin akan mereduksi garam kompleks dari reagen (ion cupri direduksi cupro ) dan mengendap dalam bentuk CuO dan Cu2O berwarna kuning hingga merah bata.
4.      Pemeriksaan Glukosa Metode Carik Celup
             Metode carik celup (dipstick) dinilai lebih bagus karena lebih spesifik untuk glukosa dan waktu pengujian yang amat singkat Reagen strip untuk glukosa  dilekati dua enzim, yaitu glukosa oksidase (GOD) dan peroksidase (POD) serta zat warna (kromogen) seperti orto-toluidin yang berubah warna biru jika teroksidasi. Zat warna lain yang digunakan ialah iodide yang akan berubah warna coklat jika teroksidasi.
       Prosedur uji yang akan dijelaskan disini adalah uji dipstick yaitu celupkan strip reagen (dipstick) kedalam urin.Tunggu  selama 60 detik, amati perubahan warna yang terjadi dan cocokkan dengan bagan warna.
5.      Pemeriksaan Glukosa Darah Dengan Alat Glukometer
              Ada beberapa jenis alat yang digunakan dalam pemeriksaan glukosa darah salah satunya adalah glukometer yang digunakan untuk mengukur kadar glukosa darah dengan mudah dan cepat. Pada alat glukometer dilengkapi dengan suatu sensor tepatnya disebut biosensor sesuai dengan komponen penyusunnya yang terdiri dari biological element sebagai pengenal molekul atau senyawa yang hendak diukur (analit) dan trasducer yang menangkap sinyal dari biological element itu. Biosensor sendiri bekerja berdasarkan reaksi enzymatic antara enzim glukose oxidase (GOD) dengan glukosa dalam darah yang kemudian dirubah menjadi sinyal elektronik.
              Glukosa dalam darah bereaksi dengan glukosa oxidase dan kalium ferrycianide didalam strip memproduksi kalium ferrocyanide. Kalium ferrocyanide yang di produksi sebanding dengan konsentrasi glukosa dalam darah. Oksidasi kalium ferrocyanida menghasilkan suatu elektrik yang kemudian dikonversi oleh meter untuk menampakan konsentrasi glukosa pada layar. (anonym 2004, Arkray Factory)

G.    Kerangka Pikir

Karbohidrat
 
Rounded Rectangle: Metabolisme Karbohidrat                                                                        


 












Gambar 2.2 Kerangka Pikir
Keterangan :
                                    = Variabel yang akan diteliti
                                       = Variabel yang tidak diteliti
              Karbohidrat didalam makanan melakukan serangkaian proses kimiawi dalam tubuh (metabolisme) menjadi bentuk glukosa, selanjutnya glukosa yang telah diserap oleh usus halus akan terdistribusi ke dalam semua sel tubuh melalui aliran darah. Di dalam tubuh, glukosa dapat tersimpan dalam bentuk glikogen di dalam otot, hati, namun juga dapat tersimpan pada serum darah dalam bentuk glukosa darah yang mana digunakan sebagai bahan pemeriksaan. Pemeriksaan kadar glukosa dalam darah sering menggunakan metode GOD-PAP dan hasil dibaca pada alat spektrofotometer. Adapun hal-hal yang dapat memepengaruhi hasil pemeriksaan diantaranya factor instrument, metode, reagen dan sumber daya manusia (SDM).

BAB III
METODE PENELITIAN



A.     Jenis penelitian
              Jenis penelitiaan yang digunakan adalah bersifat eksperimen laboratorium, yaitu untuk membandingkan ada tidaknya pebedaan pengaruh pemisahan serum tanpa sentrifugasi dengan serum yang disentrifugasi terhadap hasil pemeriksaan glukosa darah metode GOD-PAP.
B.    Alur penelitian













Rounded Rectangle: Mahasiswa














Gambar 3.1 Alur penelitian
C.    Populasi dan Sampel
1.   Populasi
       Populasi dalam penelitian ini adalah pemeriksaan glukosa darah metode GOD-PAP
2.   Sampel
       Sampel penelitian adalah pemeriksaan glukosa darah menggunakan serum tanpa sentrifugasi dengan serum yang disentrifugasi, masing-masing 20 sampel yang diambil dengan menggunakan teknik accidental sampling.
D.    Variabel Penelitian
1.   Variabel Bebas
       Variabel bebas dari penelitian ini adalah serum tanpa sentrifugasi dengan serum yang disentrifugasi.
2.   Variabel Terikat
       Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil pemeriksaan glukosa darah metode GOD-PAP menggunakan serum tanpa sentrifugasi dengan serum yang disentrifugasi.
E.     Devinisi Operasional
1.      Darah adalah  suatu suspensi partikel dalam suatu larutan koloid cair yang mengandung elektrolit
2.      Glukosa darah adalah kadar glukosa yang terdapat didalam darah yang dinyatakan dalam satuan mg/dl.
3.      Pemisahan serum tanpa sentrifugasi yaitu darah dibiarkan membeku spontan selama 1- 2 jam dalam suhu ruangan sampai terbentuk serum.
4.       Pemisahan serum dengan sentrifugasi yaitu darah didiamkan membeku selama 15 menit kemudian segera dipusingkan selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rotasi permenit (rpm)
5.      Serum adalah cairan berwarna kuning yang diperoleh setelah pengendapan darah.
6.      Metode GOD-PAP adalah salah satu metode yang digunakan dalam pemeriksaan glukosa darah secara enzimatik menggunakan reagen Glukosa.
F.     Lokasi dan Waktu Penelitian
1.   Lokasi Penelitian
       Penelitian ini dilakukan di laboratorium Program Studi D3 Analis Kesehatan Universitas Indonesia Timur Makassar.
2.  Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 3 April 2012
G.    Prosedur Penelitian
1.    Cara Pengambilan Sampel
Sampel darah vena diperoleh melalui punksi vena
a.    Alat
1)    Spoit atau semprit, vacutenner system
2)    Tabung vial tanpa antikoagulan
3)    Karet pembendung
4)    Kapas alkohol 70%
b.    Cara kerja
1)    Tempat yang akan ditusuk dibersihkan dengan kapas alkohol 70% dan biarkan sampai mengering.
2)    Jika memakai vena fossa cubiti; pasanglah ikatan pembendung pada lengan atas dengan tujuan adanya statis vena.
3)    Tegangkanlah kulit diatas vena itu dengan jari-jari tangan kiri supaya vena tidak dapat bergerak.
4)    Tusuklah vena yang terlihat dengan semprit sampai ujung jarum masuk kedalam lumen vena.
5)    Pembendung direnggangkan atau dilepaskan dan perlahan-lahan tarik pengisap semprit sampai jumlah darah yang dikehendaki didapat.
6)    Taruhlah kapas kering diatas jarum dan tariklah semprit tersebut.
7)    Mintalah kepada orang yang darahnya diambil supaya tempat tusukan itu ditekan selama beberapa menit dengan kapas tadi.
8)    Darah dialirkan kedalam wadah atau tabung yang tersedia melalui dinding tabung.
2.      Persiapan Sampel
a.     Darah diambil dari vena dengan menggunakan spoit sebanyak 5 cc
b.     Darah dimasukan kedalam 2 tabung yang bersih dan kering tanpa antikoagulan masing-masing 2,5 cc.
c.      Kemudian darah pada tabung pertama dibiarkan membeku selama kurang lebih 1-2 jam pada suhu ruangan hingga terbentuk serum.
d.     Darah pada tabung kedua dibiarkan membeku selama 15 menit kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rotasi permenit selama 15 menit untuk memperoleh serum.
e.     Serum yang dihasilkan segera dipisahkan dari bekuannya.
3.      Persiapan Alat dan Bahan
a.     Alat
Alat atau instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a)     Screen Master Touch
b)     Spoit
c)     kapas alcohol 70%
d)     Mikropipet 10µl dan 1000µl
e)     Centrifuge
f)      Tabung reaksi
g)     Rak tabung
h)     Alat Penunjuk Waktu (Stopwatch)
i)       Tourniquet
j)       Tips kuning dan tips biru

b.     Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a)     Serum
b)     Reagen glukosa
4.   Cara Kerja:
1)    Siapkan alat yang telah dikalibrasi sebelumnya dan bahan yang akan digunakan.
2)    Siapkan tiga buah tabung reaksi yang bersih dan steril masing-masing diberi label blanko, standar dan sampel.
3)    Dipipet sampel serum sebanyak 10 µl masukan pada tabung sampel dan standar glukosa pada tabung standar sebanyak 10 µl.
4)    Dengan menggunakan mikropipet, ketiga tabung (blanko standar, sampel) diisi dengan reagen glukosa sebanyak 1000 µl.
5)    Campur dan homogenkan tiap-tiap tabung, inkubasi 10 menit pada suhu ruangan.
6)    Kemudian kadar glukosa dibaca pada alat Screen Master Touch
H.    Analisis Data
              Data disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisa secara statistic. Untuk memperoleh nilai statistik, maka semua data ditabulasikan sesuai dengan kelompok perlakuan yang selanjutnya dilakukan pengujian statistik dengan uji-t dua pihak dengan program SPSS, dengan rumus sebagai berikut:
thitung
   =        Nilai rata-rata sampel pemisahan serum ditunda 1-2 jam
  =        Nilai rata-rata sampel pemisahan serum dengan sentrifugasi
S12 = Standar devisiasi sampel pemisahan sampel ditunda  pemeriksan  1-2 jam
S22 = Standar devisiasi sampel pemisahan serum dengan     sentrifugasi tiap perlakuan
N1    =          Jumlah sampel pemisahan serum ditunda  pemeriksan 1-2 jam tiap perlakuan
 N2  =       jumlah sampel pemisahan serum dengan sentrifugasi tiap perlakuan
Kriteria penerimaan dan penolakan yaitu Ho diterima bila t hitung < t tabel  dan sebaliknya Ha diterima bila t hitung > t tabel   (Sugiyono, 2004).


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A.     Hasil Penelitian
Telah dilakukan penelitian perbandingan Hasil pemeriksaan glukosa darah metode GOD-PAP menggunakan serum tanpa sentrifugasi dengan serum yang disentrifugasi. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Program Studi Diploma Tiga Analis Kesehatan Universitas Indonesia Timur Makassar. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 20 sampel yang masing-masing  dibagi ke dalam 2 tabung masing-masing 2,5 ml. kemudian tabung pertama disentrifugasi dan tabung kedua dibiarkan dalam suhu ruangan selama 1-2 jam. Maka diperoleh hasil pemeriksaan sebagai berikut :
Tabel 4.1 : Hasil pemeriksaan glukosa darah menggunakan serum tanpa sentrifgasi dengan serum yang disentrifugasi



HASIL PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH (mg/dl)

No

N
Serum Yang Disentrifugasi
Serum Tanpa
Sentrifugasi
1
N1
103
92
2
N2
100
85
3
N3
82
67
4
N4
92
72
5
N5
96
87
6
N6
85
68
7
N7
83
68
8
N8
93
75
9
N9
82
74
10
N10
86
69
11
N11
96
70
12
N12
85
69
13
N13
83
69
14
N14
92
84
15
N15
78
69
16
N16
89
77
17
N17
70
63
18
N18
90
82
19
N19
82
74
20
N20
92
83

1759
1497

X

87.95

74,85






Sumber : Data primer, April 2012
Dari tabel 4.1 menunjukan dari 20 mahasiswa yang diambil darahnya di Program Studi Diploma Tiga Analis Kesehatan Universitas Indonesia Timur pada pemeriksaan glukosa darah didapatkan  serum yang disentrifugasi diperoleh Kadar terendah yaitu 70 mg/dl dan kadar tertinggi yaitu103 mg/dl dan pada serum tanpa sentrifugasi didapatkan kadar  terendah yaitu 63 mg/dl dan kadar tertinggi 92 mg/dl
Tabel 4.2 Hasil analisis uji t ( 2 pihak) perbandingan hasil pemeriksaan glukosa darah metode GOD-PAP menggunakan serum tanpa sentrifugasi dengan  serum yang disentrifugasi.


Pemeriksaan Glukosa

N

O

SD

t hitung

t tabel
Serum  yang disentrifugasi

20

87,95

5.057

5.218

2,027
Serum tanpa sentrifugasi


20

74,85



Sumber : Data primer, April 2012
       Tabel 4.2 Menunjukan bahwa  t hitung 5,218 > t tabel  2,027 dengan tingkat kepercayaan 95% maka Ha diterima  artinya ada pengaruh yang signifikan menggunakan  serum yang disentrifugasi dengan serum  tanpa sentrifugasi terhadap hasil pemeriksaan glukosa darah metode GOD-PAP.
B.    Pembahasan
Pemeriksaan kimia darah, khususnya pemeriksan kadar glukosa merupakan salah satu parameter penting dalam mendiagnosa suatu penyakit serta mengevaluasi tindakan medik atau memantau perkembangan suatu penyakit termasuk diabetes mellitus (DM). Salah satu metode yang sering digunakan adalah metode GOD-PAP.

           Metode GOD-PAP merupakan suatu metode pemeriksaan glukosa darah secara enzimatik, dimana kadar glukosa sebagai substrat akan dihidrolisis dengan bantuan glukosa oksidase menghasilkan asam glukonik dan H2O2. Kemudian H2O2 yang dilepaskan akan bereaksi dengan 4-aminophenazone dan phenol dengan bantuan peroksidase menghasikan zat warna quiononeimine yang berbanding lurus dengan substrat yang terdapat pada sampel.
Dalam mencapai hasil yang presisi dan akurasi untuk  pemeriksaan glukosa darah sangat dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya mulai dari faktor  sumber daya manusia, instrument, reagen dan metode yang digunakan, kemudian tiga tahap yang dijalankan yaitu pra analitik, analitik dan pasca analitik.
Berdasarkan hasil penelitian yang dianalisis dengan uji t statistik pada pemeriksaan glukosa darah menggunakan serum yang disentrifugasi dan serum tanpa sentrifugasi menunjukan hasil t hitung 5,218 > t tabel 2.093 Maka Ha diterima artinya ada perbedaan yang bermakna antara pemeriksaan glukosa menggunakan serum yang disentrifugasi dengan serum tanpa sentrifugasi terhadap hasil pemeriksaan glukosa darah metode GOD-PAP. Indikasi penurunan kadar yang sangat signifikan merupakan peringatan bagi kita untuk pentingnya memperhatikan penanganan sampel dengan cepat dan tepat untuk menghindari tertundanya suatu pemeriksaan khususnya pemeriksaan glukosa darah.
Dalam suatu pemeriksaan kita dituntut untuk memberikan hasil yang dapat dipercaya yang nantinya digunakan sebagai acuan dalam mendignosis suatu penyakit. Hal ini bisa terwujud apabila bisa seminimal mungkin menghindari kesalahan dengan memperhatikan standar prosedur operasional, memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil dan tahap-tahap dalam suatu pemeriksaan.
 
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


A.        Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pemisahan serum yang disentrifugasi dengan serum tanpa sentrifugasi terhadap hasil pemeriksaan glukosa darah.
B.        Saran
1.    Berdasarkan hasil penelitian diatas bahwa dalam pemeriksaan laboratorium khususnya pemeriksaan glukosa bahwa sampel darah harus segera diperiksa kurang dari dua jam demi mendapat hasil yang akurat dan memadai.
2.    Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk melanjutkan penelitian ini yaitu menguji kecepatan metabolisme glukosa exvivo oleh sel-sel hidup menggunakan darah puasa dengan darah sewaktu atau darah dua jam postprandial dengan menggunakan metode GOD-PAP.









2 opmerkings: